Penunggalan
Para pemilik lahan sawah di Penunggalan semakin sulit mendapatkan tenaga buruh tanam, karena suplainya terus menyusut akibat tidak ada nya regenerasi. Buruh tanam yang tersisa tinggal mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Para pemilik lahan pun terpaksa mencari buruh tanam sampai ke luar desa.
Pak Wiryopawiro, salah seorang petani di Dusun Penunggalan,Kebakalan, Kebumen Jawa tengah yang memiliki lahan seluas kurang lebih 3.500 meter persegi, mengatakan, minim suplai buruh tanam di desanya membuat masa tanamnya mundur hingga satu atau dua minggu. “Saya harus mengantre dulu sampai mereka luang dan bisa menanam di sawah saya,” katanya.
Menurut Pak wiryo Pawiro, pengurangannya buruh tanam sudah mulai terasa sejak tiga tahun terakhir. Buruh tanam sebagian besar adalah kalangan perempuan. Regenerasi muda sekarang tidak ada yang mau jadi buruh tanam. “Mereka memilih merantau kejakarta atau kerja di pabrik karena tempatnya bersih dan nyaman. Jadi buruh tanam yang ada tingga generasi tua saja,” katanya.
Untuk menanam padi, dibutuhkan ketelatenan agar tanamannya rapi dan teratur membentuk barisan. Karena mengandalkan ketelatenan, maka pekerjaan ini banyak jarang dilakukan laki-laki. Dalam sistem pembagian kerja masyarakat petani, laki-laki biasanya ditugasi untuk mencangkul sawah karena pekerjaan ini butuh tenaga besar. Upah buruh tanam saat ini berkisar Rp 13.000 per orang untuk lama kerja sekitar 5 jam. Mereka biasanya mulai bekerja pada pukul 07.00 WIB dan selesai pukul 11.30 WIB. Selain upah, buruh juga mendapatkan jatah makan sekali atau seara dengan Rp 4.000 per orang.
Jumlah buruh tanam yang terus menyusut menjadi kendala petani karena mengganggu proses tanam. “Kami berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan bantuan alat. Cangkul sudah digantikan oleh traktor, kegiatan tanam pun seharusnya bisa dibantu dengan peralat an sehingga tidak perlu lagi tenaga buruh,” imbuh Pak Wiryo Pawiro.
Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. TrackBack URI



